Pengusaha asal Belanda, Peneliti Balit Palma, Presiden Aren Foundation dan Partisipan dari California USA meriahkan Seminar Online Seri-12, Aren : “Emas Hijau dengan Hasil yang Menggiurkan”

Balai Penelitian Tanaman Palma (Balit Palma) secara rutin setiap hari Rabu jam 10.30-12.30 WITA menyelenggarakan seminar Online. Pada seri ke-12 kali ini dengan nara sumber yang sangat luar biasa, beliau adalah Dr. Ir. Willie Smits asal Belanda yang memperoleh gelar Ph.D dari Wageningen University (Ketua Pembina Yayasan Masarang, Komisaris Utama PT. Gunung Hijau Masarang), Ir.H. Kusumano, MSi (Presiden Aren Foundation), Ir. Elsje T. Tenda, MS (Peneliti Aren Balit Palma). Acara ini dibawakan oleh Host yang merupakan peneliti ekofisiologi Yulianus Matana, SP, MSi dan dipandu oleh moderator yang sangat enerjik Ir. Jeanette Kumaunang, MSc. Kegiatan ini dibuka oleh Bapak Kepala Balit Palma Dr.Ir. Ismail Maskromo, MSi langsung dari Sumatera Utara. Kabalai menyampaikan Balit Palma telah melepas Genjah Kutim asal Kalimantan Timur, Aren Smulen dari Bengkuu, Aren Toumuung dari kota Tomohon, Sulut.

 

Video proses pengolahan Gula Aren di Masarang, Sulut dipandu oleh Dr. Ismail. Beliau berbincang dengan Dr. Willie Smits di Pabrik Gula Aren, Masarang, Tomohon, Sulut. Menariknya Dr. Smits menyampaikan bahwa beliau menikahi gadis tomohon dengan mas kawin 6 pohon aren. Menurut Dr. Smits untuk melestarikan lingkungan/hutan dari penebangan beliau berpikir bahwa penggunaan uap panas bumi akan jauh lebih baik. Energi yang digunakan untuk merubah nira menjadi gula menggunakan sisa uap panas bumi yang merupakan kerjasama Pertamina Lahendong dengan pabrik gula aren, sehingga petani aren bisa memperoleh penghasilan yang jauh lebih tinggi. Dulu pendapatan Rp. 30,000,- sekarang rata-rata bisa diatas Rp. 300,000,-. Penyadap aren bisa dihargai bisa sampai Rp. 1,000,000,-/hari tergantung dari banyaknya nira aren dan kualitas aren yang diperoleh.

  

Kunjungan berikutnya ke Desa Tara-tara tiga, desa yang menyuplai Nira Aren. Nira sudah dipanaskan dengan uap yang ada di pipa, terdapat truck tangki yang akan menampung. Sapi digunakan untuk transportasi nira aren tersebut. Satu kelompok sebanyak 320,000 orang masing-masing rata-rata 200 liter/hari sehingga memperoleh pendapatan Rp. 400,000/hari/orang akan mensejahterakan rakyat kecil. Pendapatan langsung ditransfer ke rekening istri petani setiap seminggu sekali. Penyadapan aren hanya pagi dan sore, waktu sisanya bisa digunakan untuk pekerjaan lainnya. Di dalam pabrik dijelaskan oleh pak Erik, 7-8 liter nira aren untuk mendapatkan 1 kg gula kristal organik dengan kadar gula menggunakan 14 %Brix dengan refractometer, pH harus di atas 7 untuk mendapatkan gula kristal. Proses kristalisasi diatas wajan dengan penyaluran energi dari pipa uap panas bumi. Pabrik ini di buka oleh Presiden SBY dan dan hingga saat ini selalu diperbaiki efisiensinya dan telah mencapai 95%. Proses lebih higienis daripada olahan petani karena di dalam ruangan pabrik terdapat penguapan, penghisap udara kotor. Warna dan tekstur sangat stabil begitu dijelaskan oleh Dr. Smits. Sebelum didistribusikan/ekspor dilakukan pengemasan dan penggudangan. Dari awal sampai pengiriman terdapat proses quality control. Penghargaan yang diperoleh oleh PT. Gunung Hijau Masarang ini diantaranya di bidang pelestarian alam/lingkungan dengan aren mendapatkan penghargaan Kalpataru dari Presiden. Padma karya award sebagai perusahaan menengah terbaik yang diberikan oleh Presiden Jokowi.

Presentasi pertama dilakukan oleh Prof. Julius Pontoh, guru besar Kimia Unsrat, beliau memaparkan terkait yayasan masarang dalam hal menggerakkan organik farming, beasiswa anak-anak petani aren, pusat penyelamatan satwa liar, kesejahteraan petani aren, program-program reforestasi, selain di Tomohon, aren sudah dikembangkan di Kalimantan. Tanaman aren selama menyadapnya tetap menghasilkan gula dari proses fotosintesis, hasil penelitian telah dipublikasikan pada Tahun 2015. Dr. Smits selanjutnya membahas lebih detail terkait tanaman aren, fotosintesis dan kesuburan tanah. Aren mempunyai akar yang sangat dalam sehingga akan memperkuat struktur tanah dari erosi atau baik untuk konservasi, daun aren bisa menutup sehingga bisa mencegah saat terjadinya kebakaran. Produk dari tanaman aren diantaranya, kolang-kaling, fibers, kayu, obat-obatan, palm heart, honey, fuel wood, timber, scent material, orchid media, dan packing material. Hasil konversi energi yang dihasilkan dari aren tiga kali lipatnya sawit. Dibandingkan jagung, tebu, dan sawit, aren lebih unggul karena (land: high availability, energy/ha yang dihasilkan tinggi, water: low demand, tanpa pestisida, species: diverse, pangan: aman, labor: permanent, climate: carbon positive, planting: once, dan processing: all year.

 

Ir. Elsje T. Tenda, peneliti utama bidang pemuliaan Balit Palma yang telah melepas lebih dari 30 varietas tanaman aren, termasuk 4 diantaranya Aren dari Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Banten, dan Bengkulu. Indonesia merupakan salah satu center of origin tanaman aren karena tersebar pada hampir seluruh wilayah di Indonesia dari sabang sampai papua (60% populasi aren dunia). Varietas unggul tanaman aren yang telah dilepas Balit Palma yang bekerjasaman dengan Dinas Perkebunan daerah/provinis diantaranya 1) Aren Genjah Kutim, asal Kab. Kutai Timur, dilepas Mentan (2011) keunggulan cepat produksi 5-6 Tahun, produksi nira > 12 liter/mayang/hari, 2) Akel Toumuung (tipe dalam) asal kota Tomohon dilepas Mentan (2014) berproduksi sekitar 10 Tahun (Produksi tinggi, rata-rata 30 liter/mayang/hari), 3) Aren Parasi (Tipe Dalam) asal Kab. Lebak Banten, Dilepas 2018), mulai berproduksi sekitar 8 Tahun (Produksi 15 liter/mayang/hari), 4) Aren Smulen ST1 (Tipe Semi Tall) Asal Kab. Rejang Lebong dan Kapahiyan Prov. Bengkulu dilepas tahun 2019 dengan produksi 15 liter/mayang/hari. Beliau juga menyampaikan Indeks Glikemik Gula Aren Rata-rata 47 (rendah) sehingga baik untuk kadar gula darah. Salah satu cara untuk menanggulangi masalah tanaman aren yang pohonnya tinggi dan kurangnya tenaga pemanjat adalah dengan merakit aren hibrida dengan tujuan untuk mendapatkan aren hibrida yang cepat berproduksi, produksi nira tinggi dan masa sadap panjang.

  

Presiden aren foundation Ir. H. Dian Kusumanto, MSi, Menyampaikan materi peluang aren dalam revitalisasi industri gula di Indonesia. Tebu, musim giling hanya 170 hari atau 195 hari tidak berproduksi, sedangkan aren terus berproduksi. Investasi Pabrik Gula juga berbiaya mahal sekali dibandingkan aren. Produktifitas aren 5-10 kali lipat dibanding tebu. Keunggulan Aren dalam industri gula 1) PRO POOR, 2) PRO WATER & PRO PLANET, 3) PRO EMLOY, 4) PRO HEALTH, DAN 5) PRO GROWTH. Teknologi yang diperlukan diantaranya 1) Pembibitan  Bibit Genjah dan Unggul, 2) Pola tanam  5 m x 10 m (pop 200), 3) Sistem pemupukan  SIMO & SIMOBO (Organik), 4) Sistem panen nira  Jembatanisasi & pipanisasi, 5) Sistem sadap nira  APUS, VLUS, dll, 6) Pengawetan nira secara organik, 7) Sistem tungku hemat energi, 8) Pengolahan nira dan gula  sistem membrane (reverse osmosis) & vacuum evaporator (hemat bahan bakar), dan 9) Produk dengan sertifikat organik.

Dalam diskusi dari pertanyaan dari room chat dari zoom dan youtube dari 1) bapak Miftahorrachman bagaimana saran strategi pengembangan aren untuk produksi gula di daerah lain yang tidak mempunyai sumber panas bumi yang tidak mengganggu kelestarian lingkungan? 2) Pertanyaan dari bapak Teo pilus apakah ekspor dalam bentuk kemasan, kemasan kecil, repacking atau packing? 1) Dr. Smith menjawab di tempat lain bisa menggunakan biomassa yang mesti dimanfaatkan lebih efektif , jika pakai rocket stove menghemat 75% kayunya. Paten dari Dr. Smith pabrik mini untuk mengelola nira aren secara efisien dan terintegrasi. 2) Kemasan gula tergantung dari pembelinya, ada juga seperti Singapore/Australia kantong 15 kg, ekspor Belanda, Jerman, atau Eropa lainnya ada kardusnya, nanti bisa repacking ke eropa. Pertanyaan untuk Ibu Elsje Tenda 1) dari Bapak Nusriadi Ego berapa lama umur produksi aren sejak mulai panen perdana sampai matinya pohon aren tersebut? 2) dari Bapak Rubiyo, jarak tanam kopi dengan aren. Pertanyaan dari ibu Siska 3) apa perbedaan gula tebu dengan gula aren terkait kesehatan? Ibu Esje Tenda menjawab 1) aren Dalam lebih lama dibanding aren genjah. Rata-rata Aren dalam 10-12 Tahun, aren genjah 6-8 tahun, 2) di Bengkulu, tanaman kopi di antara aren menyarankan antar baris 4 m, agar lebih luas 8 m agar kanopi tidak saling bersinggungan, 3) Kerjasama Balit Palma dengan BB. Biogen, IG Gula Aren 47 lebih rendah dari gula tebu (60-80), sehingga konsumsi dengan gula aren lebih sehat. Dr. Smith menambahkan melakukan penelitian dari 1200 kasus kematian orang yang meninggal secara alami di Tomohon, genetik sangat seragam, pola makan seragam, 70% petani, orang yang menggunakan gula aren rata-rata lebih lama 10 tahun hidupnya, 6 jenis penyakit sangat kurang dibanding orang yang sering konsumsi gula tebu, yang terdapat diabetes, serangan jantung, asma, paru-paru, adan juga hubungan rambut dengan uban berhubungan dengan inflamasi. Secara empiris IG tergantung proses penyadapan lebih bersih tingkat sukrosa lebih tinggi, proses mailard bentuk piro, furan, perlu kaitannya dengan kesehatan badan dan masih butuh penelitian lebih lanjut bisa MoU dengan Balit Palma.

 

Pertanyaan dari bapak Rudi Hartawan kenapa komoditi Aren belum dilirik perusahaan besar seperti sawit. Dr. Smith menjawab sawit dengan insektisida, herbisida, tidak ada sustainable. Belum ada pengusaha lain harus ada memberi kesejahteraan petani, penyadapan harus manual, bertahun-tahun produktifitas akan naik, kalau di Tomohon ada ilmunya dalam menyadap kearifan lokal petani, mengangkat ekonomi masyarakat sekitar. Dialog interaktif, dengan bapak Utama Kajo, 1) berapa perkiraan investasi 1 ha kebun aren dan berapa tahun mencapai BEP untuk mencapai kesejahteraan. 2) Tungku Ketelnya double jacket ya pak dan apakah bisa dibuat di Indonesia? 3) Pak Utama dan temannya dari Korea telah mencoba membuat Soju dari aren, Soju is not Wine, ice cream toping from aren, sirup aren bisa bersaing dengan maple sirup, pak utama akan mengajukan ide kerjasama tersebut. 1) Dr. Smith menjawab Investasi 3 Tahun pertama 3000 US$, BEP tergantung kondisi awal penanaman seperti terdapat semak belukar, dsb. Evaluasi Mc Cansey dari Norwegia proyek aren di Kaltim IRR 31% jauh dari 18% di sawit. Resep tumpeng sari menghasilkan dana 3 Tahun pertama, pada tahun ke-7 investasi pengembangan infrastruktur produksi aren. 2) Punya workshop di pabrik, selalu ada penemuan baru alat baru dengan bahan stainless steel, di Tomohon bisa dibuat. Dian Kusumanto menambahkan untuk investasi pabrik gula aren dan perkebunan jauh lebih murah dibanding sawit. Di Aren tidak peru membuka lahan sebersih sawit, penyiapan lahan lebih murah. Setelah umur 7 tahun tanaman sistem jembatanisasi tangga, pipanisasi, tungku mengolah nira sudah mulai disiapkan, bibit genjah 6 tahun mulai. Di Malaysia Balong River Plantation, pola penanaman seperti sawit 9×9 m, dalam hal panen tradisional, Indonesia lebih maju. 3) Sirup sudah diekspor sangat digemari untuk pancake, ice cream, langsung dari topingnya. Begitu banyak turunan gula aren, perlu kerjasama dengan mitra.

   

Pertanyaan interaktif dari Ir. Yusuf Djafar dari BPPT Kemenristek ke Dr. Smits 1) Dari sisi pengolahan aren kira-kira ekonomis mana dijadikan gula kristal atau energi (bioetanol). Jawab 1) di Luar negeri gula harganya jauh lebih tinggi 2 Euro untuk 1 kg, jauh lebih tinggi dari pada fermentasi menjadi etanol. Jika pasar gula terpenuhi 2-3 tahun tidak perlu impor gula, bisa alihkan untuk energi. Pedalaman papua bisa dimodifikasi seperti mobil di Brazil menggunakan etanol jadi lebih menguntungkan. Pertanyaan interaktif dari Ibu Lisa Tungka-Feinstein, pengusaha pertanian yang berada di California USA. 1) Apa unsur keunggulan setelah dilakukan sertifikasi, 2) Bagaimana rakyat bisa mengetahui bibit unggul yang akan ditanam agar 7 tahun ke depan benar bibitnya?. Dr. Smits menjawab 1) Sertifikasi ada yang organik, FDA, Control union, Halal cukup mahal untuk organik US$ 6000/tahun biayanya baru 1 jenis sertifikasi.  2) Yayasan Masarang pertama disertifikasi penyedia bibit unggul, tidak bisa dilihat dari kecambah besar. Pak Dian menambahkan aren sudah berproduksi bijinya akan semakin agak mengecil. Tidak dari asal bibit saja, tapi dilihat bagaimana aren di tanam di daerah gunung, aliran sungai, air cukup dengan lereng-lereng, sebaiknya dicari penyedia bibit yang sudah ada pohon induknya. Ibu Elsje Tenda menjawab di Undang-undang no 12 Tahun 95 dan peraturan mentan, ada pohon induknya agar petani tidak salah mengembangkan benihnya. Regulasi untuk melihat benih yang diedarkan dari pohon induk yang terpilih ada Balai sertifikasi benih dari Dirjenbun. Aren: Si Emas Hijau yang masih mempunyai potensi yang terselubung benar-benar menggiurkan. Semoga pengetahuan yang didapat dari diskusi ini bermanfaat. Salam sehat selalu dan Salam Aren, Sejahteralah petani aren Indonesia. (AYP 23/09/20).

 

#SalamAren #ArenEmasHijau #BalitPalma

Print Friendly