Balit Palma Selenggarakan Seminar Online Seri-11: Peluang Pasar Global Desiccated Coconut (DC) dikala Pandemi Belum Berlalu

Balit Palma sukses menyelenggarakan Seminar Online mingguan seri ke-11 pada hari Rabu, 16 September 2020 dengan Topik “Peluang Pasar Global Desiccated Coconut di Kala Pandemi Belum Berlalu”. Kegiatan dilakukan melalui aplikasi zoom dan live youtube. Peserta yang mengisi feedback dapat menerima e-sertifikat secara gratis. Acara dibuka oleh Host Helmitar Yulia, Amd.TP di lokasi di unit pengolahan DC di PT. Royal Coconut Indonesia (RCI) yang berlokasi di Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara.

Hal menarik dari acara ini adalah diputarnya audio visual proses pengolahan Desiccated Coconut atau tepung kelapa di PT. RCI, di sana Kabalit Palma Dr.Ir. Ismail Maskromo, MSi melihat langsung proses pengolahan yang dijelaskan oleh Manajer Produksi PT. RCI, bapak Ronny Mandagi memaparkan kapasitas produksi 200-250 ton/hari menghasilkan 1 kontainer sekitar 1100-1200 bags/hari. Masa pandemi COVID-19 ini perusahaan tidak ada masalah, supply kelapa tetap ada di Sulut, bisa dari Gorontalo juga. Proses pengolahan DC di PT. RCI sebagai berikut: 1) Penurunan Kelapa dari Truck ke Gudang terbuka, tidak terkena panas langsung, 2) Sortasi kelapa berdasarkan kelapa pecah/tidak, besarnya kelapa, untuk produksi memakai ukuran yang pas, 3) Opening kelapa, untuk mengupas batok kelapa target 2400 butir kelapa/hari dibagi 2 shift jam 05.00-13.00 dan 13.00-21.00, 4) Pengupasan kulit ari kelapa dibagian perer agar tepung berwarna putih, air kelapa dikeluarkan, kemudian masuk ke unit produksi 5) Pencucian (washing) daging kelapa setelah disortir dari kotoran paring, 6) Penggilingan dengan Grinder akan menjadi seperti bentuk ampas yang masih basah, 7) Masuk ke Blansher fungsi mematikan bakteri/kuman yang di kelapa giling basah, 8) Pengeringan di dryer (30 menit) mesin croptor, 9) Pengambilan sampel laboratorium untuk uji pertumbuhan jamur, coliform yang merusak kualitas tepung, warna, dsb, tiap bags tidak terlewatkan untuk menjaga kualitas ekspor, dijelaskan oleh Ibu Dewi Kepala Laboratorium 10) Packing tergantung permintaan buyer 1 bags 10, 25, atau 50 kg, 11) Penggudangan DC bags menunggu hasil lab keluar sehari setelahnya jika terkontaminasi akan di karantina dan reproses, 12) Permintaan banyak ekspor Eropa Jerman, Turki, dan Timur Tengah.

Narasumber kali ini yaitu Dirut PT. RCI, Harry Azhar, SE yang menyampaikan “Succes Story dan Peluang Pengembangan Agribisnis Kelapa”. Produk DC dari PT. RCI juga telah tersertifikasi SNI, Halal MUI, KOSHER, dan HACCP untuk memastikan setiap tahapan proses manufacture berjalan dengan baik. Tersertifikasi KOSHER berarti Halal menurut bangsa Yahudi. Kemudian aspek keamanan pangan, uji laboratorium seperti kadar air dan bakteri jika memenuhi syarat baru boleh di ekspor. Produk lain yang diproduksi PT. RCI selain DC adalah produk air kelapa “Beta Coco”, produk santan kelapa “Santang” yang dikemas dengan tetra pack teknologi kemasan aseptic untuk menjaga nutrisi dan minuman kelapa.

Alit Pirmansah dari International Coconut Community (ICC) menyampaikan terkait “Peluang Pasar Global Desiccated Coconut Dikala Pandemi” Pada Tahun 2019 (Sebelum Pandemi Covid-19) pasar dunia DC sebesar 42% disuplai oleh Philippines, kemudian Indonesia 19%, Sri Lanka 12%, dll, banyak permintaan ke negara USA 11,2%, Netherlands 7,8%, Singapore 5,6%, dll. Di kala pandemi COVID-19 terjadi Penurunan eksport di Sri Lanka sebesar -13%. Data BPS Januari-Mei 2020 ekspor seluruh produk kelapa Philippines dan Indonesia terjadi peningkatan (tidak terdampak). Permintaan DC di USA, dan Uni Eropa terjadi penurunan masing-masing volume permintaan -27 sampai -19%. Ekspor DC Philippines dari Januari-Mei 2019 dan 2020 terjadi peningkatan 20%, sedangkan di Indonesia dari Bulan Januari-July 2019 dan 2020 terjadi kenaikan ekspor 28%. Permintaan DC besar karena bahan pangan selalu dibutuhkan di Pandemi.

Paparan Narasumber kemudian dibahas oleh peneliti Pascapanen Balit Palma Patrik M. Pasang, STP, MT. Pasar DC sangat luas/terbuka dalam negeri maupun luar negeri, kelapa parut kering home produk snack sangat banyak. Data-data supermarket 11 industri yang menggunakan DC yaitu Cocola, Nissin paling banyak varian, Aneka Indo Makmur, Arnold yang produksi Good Time rasa coconut gabung dengan sereal, garuda food (Gery, Malkist kelapa), Khong-Guan, Hatari, Cap Orang Tua, Mayora (Roma Biscuit Kelapa), Vercade, dan Kalpa campuran Coklat dan kelapa. Pembahas juga menyinggung selain pemanfaatan sebagai produk pangan, untuk produk non pangan DC digunakan sebagai bahan kosmetik karena masih ada kandungan minyak di dalamnya. Hampir semuanya Industri, karena penanganan DC tidak mudah untuk skala kecil. Harga butiran kelapa untuk dibuat DC cukup stabil dibandingkan dengan kopra. Beliau juga menjelaskan bahwa proses di DC mulai dari kelapa basah, setengah basah, dan kering, kemudian DC didinginkan dulu sebelum dikemas. Terdapat 3 ukuran DC yaitu Medium, fine (halus), dan extra fine yang paling diminati medium dan extra fine Pengemasan dengan bagian luarnya kertas 3 lapis kemudian baru plastik untuk menjaga mutunya. Sebaiknya ada program peremajaan kelapa oleh perusahaan untuk membantu petani pemasok kelapa.

Moderator kali ini adalah Dr. Asthutiirundu, S.Hut., MP yang memandu acara seminar online dengan energik dan menarik. Dalam diskusi penanya dari Chat dijawah oleh Direktur PT. RCI. 1) Umur simpan tergantung treatment, Free SO2 white life sampai 6 Bulan, shelf life free SO2 sampai 12 Bulan, yang di treatment SO2 di Eropa timur dibawah 50 ppm bisa sampai 18 Bulan, permintaan negara Brazil 100 ppm bisa awet sampai 24 Bulan. 2) Bagaimana melihat kesejahteraan juga dirasakan petani, patokan harga kelapa butir lebih tinggi dari harga kopra, rata-rata lebih tinggi 28% dari harga kopra, harga beli Rp. 2350,-/kg, Kopra 8200/4,5 atau Rp. 1800,-/butir, berarti terdapat selisih harga sekitar Rp. 550,-.

Alit Pirmansah menjawab pertanyaan chat partisipan terkait 1) Harga DC yaitu Sri Lanka/Philippines punya pasar cukup kuat mampu memantain harga sedangkan di Indonesia terkendala tarif impor. Tidak ada perbedaan significant di mutu DC nya. 2) Pemangku kebijakan harus membenahi harga tersebut, Sri Lanka menerapkan lelang untuk produk kelapa agar harga di tingkat petani lebih baik.


Penanya interaktif bapak Ardi Simpala, MSc dari Sahabat Kelapa, DC harga stabil dan PT. RCI sudah ekspansi menambah pabrik di Gorontalo. Sri Lanka mengapa harga lebih bagus dibanding DC Indonesia, pasar dan permintaan bagus. Pertanyaan mengapa di Indonesia/Manado ada beberapa pabrik DC yang tidak beroperasi lagi, sedangkan PT. RCI masih tetap running berproduksi? Menurut pak Ardi hulu kita bermasalah, apakah luasan benar 3,5 juta ha? Jika beberapa perusahaan tidak beroperasi berarti ada permasalahan di pasokan? harga di tingkat petani tidak layak, perlu dilihat harga yang lebih layak bagi petani agar bisa menanam sendiri? Dirut PT. RCI menjawab perusahaan yang sudah tidak beroperasi lagi itu lebih disebabkan karena masalah manajemen. PT. RCI masih running berproduksi DC dan dimasa pandemi ini tetap menerapkan standar COVID-19, khususnya pada bagian parer dan sheller. Menanggapi ketersediaan pasokan kelapa bisa diambil di luar Sulut seperti Gorontalo, kepulauan Sangihe, Tobelo Halmahera. Dengan produksi banyak, harga pokok akan turun, sebaliknya dengan produksi rendah harga produk akan naik. Untuk Amerika lebih susah DC dari Indonesia untuk menembus pasarnya, tepung kelapa di Amerika diambil dari Philippines karena historis, sedangkan Indonesia DC nya diambil oleh Belanda. Pak Alit ICC menambahkan mari bersama memperbaiki data kita dari hulu ke hilir untuk mengambil kebijakan yang lebih baik. Penanya interaktif kedua adalah Bapak Kadisbun Sulut, Ir. Refly Ngantung, MSi. Menyoroti harga kelapa di tingkat petani, agar petani lebih sejahtera. 1) Mari bermitra dengan petani/kelompok tani secara langsung, memotong rantai panjang pengumpul, pemasaran, memperbaiki harga kelapa, 2) Bisa tidak CSR dibagikan ke petani membeli alat panjat, sarana produksi dan lainnya untuk industri berkelanjutan, petani small holder coconut (perkebunan kecil petani kelapa). Ibu moderator menambahkan sebaiknya koordinasi dari aspek kelembagaan harus sesuai dengan role of the game nya. Pak Azhar menjawab: Masalah klasik petani, mengijonkan pohon kelapa ke pedagang, sebelum panen sudah mengambil hasil/uangnya, yang merasakan akhirnya para pengumpul. Caranya dengan keterlibatan pemerintah, Pak Azhar juga sebagai Anggota Legislatif di Minut menyarankan untuk duduk bersama-sama, petani merasakan harga kelapa di tingkat industri. Pak Alit menjawab: di India memotong rantai pasokan kelapa ke pabrik, mengorganisir petani memiliki bargaining posession di rantai pasokan, semua industri harus melalui poktan kelapa, dengan adanya bantuan pemerintah.

Closing Statement dari Nara Sumber: 1) Pak Azhar perlu sinergi semua pihak pemerintah dan pengusaha untuk memikirkan semua hal terkait kelapa, di Sulut masih terjadi pengurangan lahan kelapa, 2) Pak Alit mengajak mari kita meningkatkan kesejahteraan petani, dan 3) Pak Patrik mari kita semua bekerjasama untuk membawa petani kita lebih sejahtera lagi. Salam Kelapa Kayalah Petani Kelapa Indonesia (AYP, AI,16092020)

#indonesiamaju #salamkelapa #balitpalma

Print Friendly