History

(1) History of Balai Penelitian Tanaman Palma ( Indonesia Palmae Crops Research Institute )

On 1927, Explosion of  Sexava sp.  and long dry summer on Sulawesi Utara, result in around  100.000 coconut plant destroyed. The Coconut Research Institute was established by Netherland Goverment (Pemerintah  Belanda)  on 1930 to solve that problem, and given name Klapper Proofstation (Coconut Experiment Station) at Sario Manado, with the experimental garden located in Mapanget. The main research is selection and  collection some coconut accession  by Dr. P.L.M. Tammes (Peneliti Belanda). Coconut collection located on experimental garden Mapanget known as Tammes Collection and still maintained until today.

1961, Indonesia goverment give a serious attention on Coconut Research and established  Fat Plant Research Institute. In 1962, become Coconut and Other Fat Plants Research Institute.  On 1967, join with Fiber and Indutrial Plant Research Institute and become Industrial Plant Research Institute (LPTI / Lembaga Penelitian Tanaman Industri ).The Institute oversees 3 regional branches, Regional I Branch in Bogor, Regiona II Branch in Bandar Lampung, and The Region III branch is located in Manado which conducts coconut research.

1979, LPTI Region III Branch become Indutrial Crops Research Institute (Balitri / Balai Penelitian Tanaman Industri) Manado, who has a duty to conduct research of Coconut Crops and Other Industrials Crops Research. On 1984, Balittri Manado Become Coconut Crops Research Institute (Balitka),  and in 1994, Coconut Crops Research Institute Became Coconut and Other Palmae Crops Research Institute, and the main research is on coconut,  sago , Sugar Palm, Areaca Nut, Lontar and Gewang. On 2011 this institute became Palmae Crops Research Institute known as Balit Palma, with additional tasks are the commodities of Palm Oil and Nipah.

Balai Penelitian Tanaman Palma sebagai institusi yang memiliki mandat penelitian tanaman kelapa, kelapa sawit, sagu, aren pinang, lontar, gewang, dan nipah telah memperoleh ISO 9001 : 2008 dan ISO/IEC 17025 : 2008.  Balai Penelitian Tanaman Palma memiliki fasilitas penelitian yang memadai, yaitu  4 unit Kebun Percobaan dengan luas 174,7 ha, 5 unit laboratorium (Ekofisiologi, Pasca Panen, Pemuliaan, Bioteknologi, Hama dan Penyakit), 4 unit green house dan 2 unit screen house, 1 unit bengkel rekayasa alat pengolahan pupuk dan hasil pertanian, 1 unit percontohan bioindustri kelapa, serta didukung oleh perpustakaan digital dan konvensional. Kegiatan penelitian tidak hanya dilakukan di lokasi kebun percobaan dan laboratorium milik Balit Palma, tetapi dilakukan juga di lokasi dan laboratorium milik pemerintah daerah, universitas nasional dan internasional. Balit Palma didukung oleh SDM yang kompeten, yaitu 8 orang Doktor (S3), 15 orang Master (S2), dan 22 orang sarjana (S1).

Profile of Agency Head from begining until today:

                                               

Ir. Abdul Rachman SK, M.Ag (1963 – 1968 )                                          S. J Malonda (1968 – 1970)

                                                    

Sudarsrip Hadrdjoprajito, Bsc (1970 – 1983 )                                           Dr. Ir. Darwis SN, MS (1983 – 1987)

                                                    

Dr. Ir. Zainal Mahmud, MS (1987 – 1995 )                                                Dr. Ir. David Allorerung , MS (1995 – 2002 )

                                                     

Prof. DR. Ir. Hengky Novarianto, MS (2002 – 2008 )                            Ir. Bambang Heliyanto, M.Sc. Ph.D (2008 – 2010)

                                                      

Dr. Ir. Chandra Indrawanto, M.Sc. (2010 – 2014)                                Ir. Emy Sulistyowati, M.Sc.Ph.D (2014 – 2016)

Dr. Ir. Ismail Maskromo, M.Si. (2016 – Now)

(2) Task dan Function Balit Palma :

  • Task : Research of Coconut, Palm, Sago, Sugar Palm, Areaca Nut, Lontar, Gewang and Nipah
  • Fungsi : melaksanakan penelitian di bidang genetika, pemuliaan, perbenihan dan pemanfaatan plasma nutfah, fisiologi, ekologi, entomologi dan fitopatologi tanaman palma. Selain itu, juga memberikan pelayanan teknik kegiatan penelitian, kerjasama, informasi dan dokumentasi, serta penyebarluasan dan pendayagunaan hasil penelitian tanaman palma.

(3)     Hasil-hasil yang telah dicapai Balai Penelitian Tanaman Palma, antara lain:

  • Melepas/merilis 30 varietas kelapa unggul, yaitu 18 varietas kelapa Dalam, 7 varietas Kelapa Genjah, dan 5 varietas kelapa Hibrida dengan produktivitas 2.8 – 3,5 ton kopra/ha/thn, lebih tinggi dari produksi nasional yaitu 1,1 ton kopra/ha/thn. Semua varietas tersebut telah terdaftar di Kantor Pusat Perlindungan Varietas Tanaman (PPVT).
  • Menetapkan Blok Penghasil Tinggi (BPT) di semua sentra kelapa di seluruh
  • Menghasilkan teknologi pendukung, yaitu peta kesesuaian lahan dan iklim, teknologi pembibitan, jarak tanam kelapa 6 m x 16 m, rekomendasi pemupukan, peremajaan kelapa sistem tebang bertahap, teknologi pengendalian hama dan penyakit terpadu yang ramah lingkungan, serta inovasi teknologi pasca panen dan alsin untuk menghasilkan produk-produk kelapa bernilai ekonomi tinggi. Inovasi teknologi di bidang bioteknologi telah dilakukan untuk karakterisasi dan pelestarian sumber daya genetik kelapa melalui pemanfaatan marka SSR dan kultur embrio kelapa kopyor.
  • Menghasilkan metoda pengolahan VCO dengan pemanasan bertahap, diversifikasi produk kelapa untuk pangan, mendesain komponen alat pengolahan minyak kelapa skala kelompok tani, alat perangkap hama Sexava sp, dan alat pengolahan pupuk organik dari limbah kelapa sistem mekanis.
  • Pada tanaman palma lain telah dilepas Aren Genjah Kutim asal Kalimantan Timur, Aren Dalam Toumoong asal  Tara-tara Tomohon,  dan Sagu Baruq (sagu yang tumbuh dilahan berlereng dan perbukitan) asal Kepulauan Sangihe, serta Pinang Betara asal J Untuk mendukung pengembangan komoditas aren dan sagu, telah dirancang dan dipatenkan alat pengolahan sagu mekanis sistem terpadu, dan alat destilator-dihidrator bioetanol teknis dari nira aren.
  • Diseminasi inovasi teknologi dilakukan agar teknologi dapat dimanfaatkan oleh stakeholder (petani, pemerintah daerah dan industri). Diharapkan aplikasi teknologi tersebut mampu memberikan efek yang signifikan pada peningkatan produksi kelapa nasional. Peningkatan produksi melalui pemanfaatan varietas kelapa unggul,teknologi budidaya yang tepat, dan teknologi pengolahan produk kelapa bernilai ekonomi tinggi. Diseminasi hasil penelitian melalui pameran, ekspose, gelar teknologi, dan penerbitan karya ilmiah hasil penelitian terakreditasi (Buletin Palma), buku, dan l Saat ini, Balit Palma ditetapkan menjadi salah satu lokasi Taman Sains Pertanian (TSP) Bioindustri Palma.
  • Membangun networking dengan stakeholder dalam dan luar negeri. Lingkup dalam negeri, Balit Palma menjadi pusat pelatihan komoditi kelapa untuk aparatur perkebunan seluruh Indonesia, dan beberapa peneliti sebagai pembimbing mahasiswa S0, S1, S2, S3 pada beberapa universitas di Indonesia seperti Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Hasanuddin (UNHAS), dan Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT). Lingkup luar negeri, Balit Palma telah bekerjasama dengan para peneliti dari Belanda, USA, Kanada, England, Perancis, Australia, India, Sri Lanka, dan Philippines, melalui kerjasama penelitian yang dibiayai oleh Food and Agriculture Organization (FAO), United Nations Development Programme (UNDP), Common fund for Commodities (CFC), Coconut Genetic Network (COGENT) dan Asia Pacific Coconut Community (APCC).
  • Aktif sebagai nara sumber dan mengirim peneliti untuk mengikuti pelatihan dan seminar di luar negeri, tergabung dalam organisasi perkelapaan dunia, seperti COGENT dan APCC. Pada pertemuan APCC tingkat Menteri di Jakarta Mei 2016, Indonesia diusulkan sebagai Coconut Center of Excellent yang berpusat di Balit Palma, Manado. Pada 27 Mei- 3 Juni 2016, Balit Palma bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri dan Non – Aligned Movement Center for South – South Technical Corporation (NAM CSSTC) melaksanakan Training on Coconut Product Development. Kegiatan ini dilaksanakan di laboratorium dan Kebun Percobaan Balit Palma, yang dihadiri oleh 41 peserta dari 13 negara. Narasumber sebagian besar berasal dari peneliti Balit Palma.  Ini merupakan langkah strategis dalam penguatan sistem inovasi sehingga Balit Palma berkinerja lebih tinggi lagi dengan menghasilkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas adopsi stakeholder.  Salah satu upaya Balit Palma untuk memperkuat kelembagaan ipteknya yaitu melalui pengembangan Pusat Unggulan Iptek(PUI) kelapa.
Print Friendly