PROSPEK DAN TANTANGAN PERBANYAKAN KELAPA KOPYOR MELALUI KULTUR EMBRIO

Kelapa kopyor merupakan kelapa mutan yang berifat letal tetapi memiliki nilai ekonomi tinggi. Perbanyakan kelapa kopyor dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara konvensional dan non konvensional. Secara konvensional kelapa kopyor diperbanyak dengan menanam buah normal yang dipanen dari pohon yang menghasilkan buah kopyor, tetapi buah kopyor yang dihasilkan pertandan sangat rendah yaitu untuk kelapa Dalam 3-25% dan kelapa Genjah 5-50%. Secara non konvensional menggunakan teknik kultur embrio, dengan persentase buah kopyor mencapai 100%. Keberhasilan kultur embrio sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah media tumbuh dan iklim mikro baik pada tahap in vitro maupun ex vitro. Hasil penelitian Balai Penelitian Tanaman Palma telah menemukan komposisi media tumbuh in vitro yang tepat untuk menunjang pertumbuhan embrio menjadi planlet, yaitu media Eeuwens formulasi ke-3 (Y3) dengan penambahan zat pengatur tumbuh NAA. Komposisi media tumbuh ex vitro untuk aklimatisasi yaitu campuran pasir, tanah dan vermikulit. Meskipun demikian kendala yang di-temukan adalah kurangnya produksi bibit hasil kultur embrio karena satu embrio hanya menghasilkan satu bibit, sehingga perlu dicari alternatif untuk perbanyakan bibit kopyor hasil kultur embrio. Penelitian Balit Palma yang sementara dilakukan, menunjukkan bahwa embrio yang dibelah dua pada titik tumbuh yang tepat dan ditumbuhkan pada media Murashige and Skoog (MS) mampu membentuk bakal daun dan akar.

disusun oleh :
Meity A. Tulalo, Sukmawati Mawardi, dan Nurhaini Mashud

Print Friendly