Potensi Gewang Di Provinsi Nusa Tenggara Timur

Tumbuhan gewang termasuk monocarpic, berbunga terminal, dan selesai berbunga dan berbuah akan mati. Umur berbuah tumbuhan gewang diperkirakan di atas 15 tahun. Jumlah buah gewang ribuan biji dan saat masak akan jatuh dan tersebar di bawah pohon. Sebagian biji akan berkecambah dan bertumbuh menjadi tumbuhan gewang muda. Penyebaran ke lahan sekitarnya, melalui air saat musim hujan yang membawa biji gewang dan tersebar menjauh dari pohon induk. Jika sudah hidup dan menjadi tumbuhan gewang muda dan belum berbatang di atas permukaan tanah, ternyata sangat sulit untuk dimusnahkan. Walaupun ditebas habis dan dibakar, beberapa waktu kemudian akan muncul lagi tunas baru. Diduga pertahanan ini karena akar gewang cukup dalam masuk dalam tanah, lalu selama titik tumbuh belum mati akan selalu tumbuh lagi, kecuali dihancurkan dengan linggis titik tumbuhnya. Tumbuhan gewang yang toleran dan telah beradaptasi di lahan kering iklim kering seperti NTT, dan ternyata memiliki manfaat yang sangat besar bagi masyarakat, sangat berpeluang untuk dikembangkan dengan sentuhan teknologi yang tepat. Bagi penduduk Nusa Tenggara Timur, tumbuhan gewang memegang peranan penting dalam kehidupannya karena hampir seluruh bagian tanaman ini dimanfaatkan, mulai dari batang, pelepah, daun, bunga dan buah. Jika jenis palma lain terutama dimanfaatkan bagian generatifnya (bunga dan buah), pada tumbuhan gewang dimanfaatkan bagian vegetatifnya, yaitu mulai dari batang, pelepah daun dan helaian daun, serta sebagian kecil bunga untuk nira dan gula gewang. Batang gewang dimanfaatkan terutama bagian empelurnya yang disebut putak untuk pakan ternak, yaitu sapi, kambing, babi, ayam dan kuda. Empelur gewang juga sama seperti batang sagu dapat diolah untuk diambil patinya sebagai tepung bahan makanan. Sebagai pakan ternak batang gewang dikupas kulitnya, lalu empelurnya dicincang hingga mencapai ukuran 3-5 cm. Sebagian rumah penduduk di desa-desa pesisir pantai terbuat dari batang, pelepah dan daun gewang. Pelepah daun gewang digunakan sebagai pagar untuk melindungi tanaman pangan dari gangguan hewan peliharaan seperti sapi, babi dan kambing. Empelur batang gewang (putak) yang kaya nutrisi digunakan sebagai pakan ternak, dan pada keadaan paceklik juga dijadikan bahan pangan (pati gewang) bagi sebagian penduduk.

Permasalahan pada tumbuhan gewang adalah masih sangat sedikit hasil-hasil penelitian terutama teknologi penyediaan bahan tanaman, budidaya, dan pasca panen. Selain itu, teknologi perkecambahan dan penyiapan benih gewang sangat dibutuhkan untuk menunjang pelestarian plasma nutfah gewang. Teknologi budidaya untuk percepatan pertumbuhan dan panen, teknologi alat-alat prosesing untuk penyediaan pakan ternak yang lebih efien dan mudah prosesnya. Jika tidak dilestarikan dan dimanfaatkan tumbuhan gewang ini, maka makin tergusur oleh alih fungsi lahan untuk komoditi lain dan pemukiman penduduk serta perkantoran. Tumbuhan gewang perlu dipertahankan dan dilestarikan di daerah-daerah tertentu, agar tetap dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai pakan ternak seperti sapi dalam rangka mendukung percepatan swasembada daging sapi ke depan.

Hasil penelitian yang pernah dilaporkan bahwa produksi putak dapat mencapai sekitar 663 kg/pohon. Jumlah putak ini dapat memenuhi makanan tambahan untuk sekitar 430 ekor kambing atau 65 ekor sapi selama 3 hari. Pemberian putak ditambah urea 3% dapat menekan kehilangan bobot di musim kering dan meningkatkan bobot sapi dan kambing di musim hujan. Informasi dari peneliti BPTP NTT bahwa pemberian pakan putak terhadap ternak sapi jangan melebihi 7 kg/ekor/hari. Pengalaman pemberian di atas 10 kg menyebabkan usus sapi luka, dan menyebabkan ternak sapi mati. Empelur batang gewang yang telah dikupas kulit batangnya, dijual sebagian penduduk dalam bentuk potongan empelur batang dengan berbagai ukuran, dan harga tergantung ukuran potongan berkisar Rp.7.500 sampai Rp. 30.000 per potongan. Potongan batang empelur ini digunakan sebagai putak bagi ternaknya, terutama di musim kemarau, karena rumput hijau sudah tidak ada lagi yang tumbuh.

No. Zat makanan Konsentrasi
1. Air (%) 40-50
2. Abu (%) 7-8
3. Protein kasar (%) 2.0-2.3
4. Lemak (%) 0.7-1.2
5. Bahan ekstrak tanpa N (%) 60
6. Serat kasar 15-18
7. Kalsium (%) 1.4
8. Phospor (%) 0.14
9. Gross energi (Kkal/kg) 3480

Tabel 1. Komposisi kimia empelur gewang
 
Perlakuan Bobot badan awal (kg) Komposisi putak segar Perubahan bobot badan g/ekor/hari
Kk/ekor/hari % bobot badan
Musim kemarau
1. Tanpa putak 132 390
2. Putak 127 2.7 2.1 160
3. Putak + Urea 131 3.3 2.5 30
Musim hujan
1. Tanpa putak 119 340
2. Putak 120 1.9 3.1 370
3. Putak + Urea 121 2.5 3.8 430

 

  • Pelepah Gewang
    Pelepah gewang memiliki panjang sekitar 4 m, lebih panjang daripada pelepah palma lainnya. Sejak dahulu sebagian masyarakat NTT telah memanfaatkan pelepah gewang sebagai dinding rumah dan pagar. Pelepah gewang ini diperjual belikan juga sebagai pembangunan bagian rumah, karena sangat kuat dan tahan lama. Bagian pangkal gewang dijual sebagai bahan bakar. Daun gewang berbentuk kipas, dengan helaian daun panjang dan sempit.
  • Daun Gewang
    Daun muda yang belum terbuka digunakan untuk anyaman, dan daun yang tua digunakan untuk atap rumah, dinding dan juga anyaman. Lidi dari daun gewang juga dapat dibuat sapu lidi dan tali.
  • Bunga Gewang
    Bunga gewang dapat disadap untuk menghasilkan nira, dan nira dimasak menjadi gula gewang. Pada prinsipnya kualitas gula gewang hampir sama dengan gula aren, kelapa dan lontar, tetapi rasa manisnya sedang dan tidak semanis gula lontar, dan ada rasa khas gewang.
  • Biji Gewangbiji_gewangBiji gewang dihancurkan oleh masyarakat untuk bahan menangkap ikan secara tradisional.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebenarnya tumbuhan gewang ini sangat toleran dan beradaptasi sangat baik di daerah dataran rendah (<100 m dpl), ketersediaan air tanah cukup tersedia, dan bisa bertahan di musim kemarau yang panjang.

( Hengky Novarianto / Balit Palma )