Peremajaan Kebun Kelapa Kesulitan Benih Unggul

Kebun kelapa seluas 3,6 juta ha yang tersebar di tanah air sebagian besar merupakan kebun rakyat. Sebagian besar kebun rakyat tersebut sudah tua sehingga perlu diremajakan. Namun melakukan peremajaan tak semudah “membalikkan telapak tangan”, karena sulitnya mendapatkan benih kelapa berkualitas. Kepala Balit Palma Badan Litbang Pertanian, Ismail Maskromo, di Jakarta, (3/10) mengemukakan, benih kelapa yang ada saat ini kebanyakan berasal dari petani berupa buah kelapa yang umumnya untuk dikonsumsi. “Benih kelapa itu seharusnya dihasilkan dari kebun bibit yang ada di sejumlah provinsi, sehingga sudah terjamin keunggulannya,” kata Ismail Maskromo.
Pembenihan kelapa yang dilakukan saat ini, menurut Ismail, masih konvensional (melalui buahnya), sehingga pengembangannya agak lamban. Selain konvensional, ada juga pembenihan kelapa dengan sistem kultur jaringan. “Tak tertutup kemungkinan kami akan gunakan teknologi kultur jaringan untuk mempercepat ketersediaan benih kelapa berkualitas,” kata Ismail. Guna mempercepat pembenihan kelapa di masyarakat, Balitbang Pertanian pada tahun 2017 mengalokasikan 200 ribu butir benih kelapa unggul. Benih kelapa unggul ini akan disalurkan ke Provinsi Bali, Riau, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo. “Sebanyak 200 ribu butir benih kelapa itu berupa varietas kelapa unggul nasional dan ada juga varietas kelapa unggul lokal,” ujar Ismail.
Sebanyak 200 ribu butir varietas kelapa yang sudah dilepas nantinya bisa dikembangkan ke sejumlah kebun induk, baik di pemerintah daerah (Pemda) setempat maupun milik masyarakat. Karena itu, setiap Pemda atau masyarakat yang ingin membangun kebun induk harus memiliki lahan minimal 1 ha. Saat ini tercatat seluas 450.878 ha kebun kelapa rakyat yang perlu diremajakan karena sudah berusia tua.

Sumber: Tabloid Sinar Tani