Peningkatan Peran Profesor Riset Dalam Mewujudkan Pembangunan Pertanian Masa Depan Yang Berkelanjutan

Workshop Forum Komunikasi Profesor Riset Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah dilaksanakan sejak tanggal 8-9 Mei 2018 bertempat di Aula Puslitbang Tanaman Perkebunan. Workshop FKPR diawali demgan laporan ketua FKPR, yaitu Prof. Dr. Tahlim Sudaryanto, selanjutnya arahan dan pembukaan Kepala Badan Litbang Pertanian, Dr. Ir.M.Syakir, yang didampingi Sekretaris Balitbangtan, Dr.M.Prama Yufdy, M.Sc. Dalam acara Workshop FKPR ini dibahas antara lain tentang: masukan untuk RPJM Bidang Pangan dan Pertanian Tahun 2020-2024, timbangan ilmiah RUU SISNAS IPTEK, strategi menghadapi pemberlakuan PP No.11/2017 tentang ASN, analisis beban tugas Profesor Riset. dan Policy Brief yang berjumlah sekitar 33 buah.

Kabadan Litbang Pertanian dalam arahan menyampaikan bahwa capaian pembangunan pertanian pada padi, jagung dan bawang merah sudah tidak import dengan inovasi teknologi, dilengkapi dengan sosial dan daya dukung lahan serta pertimbangan perubahan iklim. Percepatan varietas harus dilakukan dengan uji multilokasi secara lebih luas, sekaligus jadi penerapan dan sumber benih. Jika sudah yakin ekonomi signifikan, langsung disebarkan teknologinya, tidak perlu menunggu analisis agronomi dll. Ditekankan Kabadan bahwa era ke depan Industri harus berbasis Inovasi, sekedar pameran sudah bukan jamannya, inovasi yang diakui pemda dan swasta nilainya tinggi. Ke depan PR perlu ditetapkan keberadaan sebagai Gelar atau Jabatan. PR dan PU sangat penting dan strategis dalam rangka pembinaan fungsional dibawahnya. Proses transformasi pertanian perlu dipertimbangkan rekayasa kelembagaan.

Pada hari kedua telah disampaikan secara oral sebanyak 40 makalah Policy Brief (PB) dari berbagai topik/isu. PB merupakan bahan masukan untuk pengambil kebijakan Kementerian Pertanian. Prof.Dr.Ir. Hengky Novarianto, MS. sebagai salah satu Prof. Riset yang masih aktif dari Balit Palma telah menyampaikan PB dengan judul ” Jika Integrasi Petani dan Industri Kelapa Gagal Petani Tetap Miskin dan Industri Tidak Berkelanjutan”(HN,2018)