Pemanfaatan Sabut Dan Cangkang Kelapa Sawit Sebagai Sumber Silika Alternatif

Sabut dan cangkang kelapa sawit telah digunakan sebagai bahan bakar ketel untuk menghasilkan energi mekanik dan panas. Masalah yang ditimbulkan dari sisa pembakaran pada ketel, yaitu abu dengan jumlah banyak dan belum termanfaatkan. Potensi yang terdapat dalam satu Ton TBS Kelapa Sawit sebanyak 6,5% Cangkang dan 13% Sabut. Kandungan silika (SiO2) pada abu sabut dan cangkang kelapa sawit masing-masing sebesar 59,1% dan 61%. Kandungan silika pada abu sabut dan cangkang kelapa sawit yang tinggi dapat digunakan sebagai sumber silika alternatif. Sintesis silika dari limbah sabut dan cangkang kelapa sawit dilakukan untuk memperbaiki sifat dan mensubstitusi silika yang berasal dari alam. Silika alam cenderung memiliki kristalinitas yang tinggi dan banyak mengandung pengotor sehingga mengurangi kemampuannya sebagai absorben. Silika dapat dimanfaatkan pada bidang elektronik, mekanik, medis, seni, dan sebagai penyerap kadar air di udara sehingga dapat memperpanjang masa simpan bahan.

Selama ini pemanfaatan limbah padat berupa abu sabut sawit hanya bersifat pemanfaatan fisis, yaitu sebagai penyerap (absorben) ataupun bahan pengisi (filler) aspal beton, pada industri bata, genteng, dan lain sebagainya (Purwaningsih dkk, 2000). Pemanfaatan secara kimia dengan mengambil unsur silika belum dilakukan. Pada umumnya sebagai sumber Industrial Gradee Silica (IGS) saat ini dipakai bahan galian kuarsa dan pasir silika, silika dalam kedua jenis bahan baku ini berbentuk kristalin sehingga memerlukan energi proses yang lebih besar. Keunggulan silika dari limbah padat industri sawit berbentuk amorphous yang lebih reaktif (mudah bereaksi), tidak membutuhkan energi proses yang besar, dan memiliki Spesific Surface Area (SSA) yang cukup tinggi.

Kandungan silika yang tinggi pada abu hasil pembakaran sabut dan cangkang kelapa sawit menjadi alasan utama pemanfaatannya menggantikan sumber silika lain yang berasal dari alam, seperti pasir kuarsa. Penggunaan limbah abu sabut dan cangkang kelapa sawit, ini didasari oleh alasan bahwa limbah abu sabut dan cangkang kelapa sawit cukup murah dan mudah ditemukan, bersifat amorf, dan tidak keras (kristalinitas rendah) sehingga untuk peleburan abu tidak memerlukan waktu yang lama dan temperatur yang tinggi. Pada proses pengambilan silika apabila menggunakan bahan baku yang memiliki kristalinitas tinggi maka proses peleburan memerlukan waktu yang lama dan suhu yang tinggi. Kekerasan bahan berpengaruh terhadap kristalinitasnya.

Bentuk silika ada 4 macam yaitu amorf, tridmit, kristobalit, dan kuarsa. Dari keempat bentuk silika tersebut bentuk amorf yang paling reaktif. Silika dalam bentuk amorf mengandung gugus silanol (≡Si-OH) dan siloksan (≡Si-O-Si≡). Gugus-gugus tersebut memungkinkan terjadinya modifikasi, sehingga dapat diperoleh berbagai senyawa silika. Bentuk silika dipengaruhi oleh suhu dan waktu pengabuan. Semakin tinggi suhu dan lamanya proses pengabuan maka silika yang diperoleh memiliki kristalinitas yang tinggi. Silika kristalin cenderung tidak reaktif karena strukturnya yang kerassehingga sulit untuk bereaksi dengan senyawa kimia lain atau dimodifikasi menjadi senyawa silika lain. Silikon dioksida (SiO2) terbentuk melalui ikatan kovalen yang kuat, serta memiliki struktur yang jelas, empat atom oksigen terikat pada posisi sudut tertrahedral di sekitar atom pusat, yaitu atom silikon.

Silka banyak digunakan pada industri pulp and paper, detergent, foundry, water treatment, coatings, agglomeration, soil stabilization (Chemical Grouting dan sodium silicate), adhesives and cements, serta pada pembuatan material berbahan dasar silika, seperti silica gel, silica sol, precipitated silica, dan zeolite. Secara komersial silika yang banyak diproduksi adalah dalam bentuk silika gel dan natrium silikat. Silika gel dibuat dengan mencampur larutan natrium silikat dengan asam mineral. Reaksi ini menghasilkan dispersi pekat yang akhirnya memisahkan partikel dari silika terhidrat, yang dikenal sebagai silikahidrosol atau asam silikat yang kemudian dikeringkan pada suhu 110°C agar terbentuk silika gel. Silika gel banyak digunakan sebagai adsorben dan umumnya digunakan sebagai adsorben untuk senyawa-senyawa polar dan non-polar. Silika gel dapat juga digunakan untuk menyerap ion-ion logam dengan prinsip pertukaran ion, namun kemampuannya untuk menyerap logam terbatas . Silika gel sering digunakan untuk menjerap air/ mengurangi kelembaban dan penjernihan air.

instagram takipçi hilesi hacklink c99 shell Google