Olah Hasil Samping VCO, Tingkatkan Pendapatan Petani

Saya merasa berbahagia dapat hadir untuk memberikan support dalam usaha pengembangan kelapa di Kabupaten Sukabumi, demikian diungkapkan Desy Ratnasari, M.Si, M.Psi saat membuka Bimtek “Optimalisasi Pemanfaatan Hasil Samping Pengolahan VCO untuk Produk bernilai ekonomi”. Lebih lanjut anggota Komisi VIII DPR RI ini menuturkan bahwa kegiatan Bimtek ini dapat memberikan informasi dan keterampilan mengenai produk-produk bernilai ekonomi tinggi untuk diolah dari hasil samping pengolahan VCO, yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Pada kesempatan yang sama, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (Puslitbang Perkebunan) Ir. Syafaruddin, Ph.D dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu langkah strategis untuk mempercepat akselerasi diseminasi teknologi yang telah dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Bimtek yang dilaksanakan pada Rabu, 7 Agustus 2019 menghadirkan nara sumber Ir. Jelfina C. Alouw, M.Sc, Ph.D dengan materi Kelapa sebagai Tanaman Kehidupan. Semua bagian tanaman memiliki manfaat yang dapat diolah menjadi produk pangan dan non pangan demikian penjelasan Jelfina C. Alouw pada Bimtek yang digelar di Islamic Center Sukabumi. Oleh sebab itu, kelapa disebut sebagai pohon kehidupan, tutur Kepala Bidang Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian, Puslitbang Perkebunan, Bogor.

Materi lain yang tidak kalah menarik disampaikan oleh Dr. Steivie Karouw, STP, M.Sc didampingi Maria L. Kapu’Allo, S.Si yang mengupas tuntas tentang pengolahan berbagai produk kelapa serta produk bernilai ekonomi yang dapat dihasilkan dari pengolahan hasil samping Virgin Coconut Oil (VCO). Lebih lanjut peneliti Pasca Panen pada Balai Penelitian Tanaman Palma ini menjelaskan secara detil produk bernilai ekonomi tinggi yang dapat dihasilkan dari hasil samping pengolahan VCO, antara lain produk pangan seperti nata de coco dan anggur kelapa yang diolah dari air kelapa, ampas kelapa menjadi roti dan biscuit serta skim kelapa menjadi yogurt. Tempurung dapat diproses menjadi arang tempurung, asap cair, bahkan sebagai kerajinan dan souvenir. Asap cair selanjutnya digunakan sebagai pengawet makanan dan untuk bioinsektisida. Sabut kelapa dapat dipintal menjadi tali, geotekstil dan menjadi bahan baku untuk pengolahan bioetanol. Bioetanol merupakan bahan bakar cair ramah lingkungan untuk pengganti bensin. Sabut kelapa juga mengandung selulosa yang apabila diolah lebih lanjut dapat dihasilkan produk plastik ramah lingkungan. Turut hadir dalam acara ini Kepala Sub Bidang Kerjasama Dr. Saefudin, Kepala Sub Bidang Pendayagunaan Hasil Penelitian Sudarsono,SE dan Dr. Sri Suhesti serta staf Puslitbang Perkebunan. Semoga kegiatan yang telah diinisiasi melalui kolaborasi bersama Puslitbang Perkebunan menjadi langkah awal untuk pengembangan kelapa dan produk pertanian lainnya dalam usaha untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani di Kabupaten Sukabumi, demikian harapan Desy Ratnasari menutup kegiatan ini. Salam kelapa dari tanah Pasundan. Jayalah kelapa Indonesia (SK,2019).

Print Friendly