Membuka Cakrawala Pemikiran untuk tidak menerima apa adanya “Cerita Sagu di Luwu”

Tahun 2021 Kementerian Pertanian dalam hal ini Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian mengusung kegiatan Riset Pengembangan Inovatif Kolaboratif (RPIK) pangan Lokal Sagu. Kegiatan merupakan salah satu kegiatan diseminasi hasil penelitian tahun 2021 Balai Penelitian Tanaman Palma (Balit Palma). Kegiatan tersebut merupakan wujud dari kolaboratif dari satuan kerja dan unit pembantu teknis lingkup Kementerian Pertanian. Penanggung jawab kegiatan dalam hal ini adalah Balai Besar Pasca Panen yang berlokasi di Bogor. Adapun Balai Penelitian Tanaman Palma sebagai satker penunjang dalam kegiatan ini yang menangani kegiatan Rumpun Induk Terpilih (RIT), Blok Penghasil Tinggi dan Budidaya Sagu Terpadu.’

Kegiatan ini akan dilakukan pada lokasi milik petani sagu yang ada  di desa Pengkajoang (Malangke Barat) dan desa Takkalala (Malangke) Kabupaten Luwu Utara. Kegiatan RPIK Sagu Balit Palma meliputi 2 sub kegiatan yaitu kegiatan Identifikasi, Karakterisasi dan Evaluasi Potensi Populasi Rumpun Induk Terpilih (RIT) Sagu dan kegiatan Budidaya Sagu Terpadu. Kegiatan ini dipelopori oleh Prof. Dr. Ir. Hengky Novarianto sebagai penanggungjawab kegiatan riset pengembangan ini dan didampingi oleh tim peneliti Balit Palma yaitu Dr. Ir. Ismail Maskromo, MSi,. Meity A. Tulalo, SP.,MP, Engelbert Manaroinsong, SP.,MSi, Yulianus R. Matana, SP.,MSi, Muhammad Nur, SP.,MP, dan Dr. Asthutiirundu, S.Hut.,MP. Selain peneliti Balit Palma, kegiatan RPIK Sagu juga digerakkan oleh peneliti BB.Mektan, BBSDLP, Puslitbangbun dan BBPascapanen sebagai koordinator kegiatan RPIK Sagu.

 

Sebagai langkah awal kegiatan RPIK ini dengan melakukan baseline survey pada desa-desa tersebut untuk melihat kondisi awal pertanaman sagu disana yang meliputi kondisi real rumpun sagu, bentuk pengelolaannya,   pemanfaatan dan peruntukan sagu, budidayanya serta lokasi titik-titik populasi Rumpun Induk Terpilih (RIT) Sagu di Luwu Utara. Namun sebelum kami turun lapangan terlebih dahulu kami melakukan rapat koordinasi fisik tim RPIK (Riset Pengembangan Inovatif Kolaboratif) di BPTP (Balai Pengkajian Tenknologi Pertanian) Sulawesi Selatan di Makassar, yang sebelumnya hanya melalui virtual. Beberapa hal dibahas terkait persiapan pelaksanaan base line survey untuk ‘memotret’ kondisi  pengelolaan sagu di lokasi sasasan program RPIK. Kemudian tim bergerak ke Luwu Utara untuk melakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk menjaring informasi yang real dari petani, penyuluh, praktisi dan pemerintah daerah terkait kondisi pertanaman sagu sampai pada pemanfaatannya.

 

Selanjutnya koordinasi dan diskusi singkat juga dilakukan Bupati Luwu Utara, Ibu Indah Putri Indriani SIP, M.Si yang banyak membahas mengenai potensi dan pengelolaan sagu di Luwu Utara juga temasuk gambaran pemanfaatannya serta peraturan daerah yang membahas tentang sagu. Ibu Indah menyampaikan bahwa sagu seperti udara bagi masyarakat Luwu karena jika tidak ada maka akan dicari-cari sampai diperolehnya. Sagu dapat disulap menjadi berbagai kuliner berbahan sagu yang sangat enak namun yang menjadi menu wajib di Luwu Utara adalah  kapurung  yang selalu ada tiap hari di meja makan. Sagu menjadi penting bagi masyarakat luwu sehingga tanaman sagu menjadi logo Kabupaten Luwu  Utara. Diskusi singkat tim RPIK dengan Bupati Luwu Utara, mendapatkan gambaran keberadaan sagu di Luwu Utara saat ini dan rencana dan harapan ke depan. Beberapa permasalahan yang diungkap ibu Bupati yang sebelumnya wakil Bupati Luwu Utara ini  meliputi, keinginan untuk memperluas populasi sagu yang ada saat ini namun belum tersedianya benih unggul sagu yang bersertifikat, mulai berubahnya pola konsumsi sagu pada generasi muda akibat adanya pilihan kuliner non  sagu yang lebih menarik.

Menanggapi ‘cerita’ Bupati, Kepala Balit Palma, Dr. Ismail Maskromo mewakili tim RPIK Balit Palma menyampaikan tentang keunggulan aksesi sagu di Luwu Utara yang telah diidentifikasi tim Balit Palma dan Ditjenbun sebelumnya yaitu produksi per pohon sagu di atas 700 kg melebihi hasil varietas-varietas sagu yang telah dilepas sebelumnya yaitu sagu Meranti dari Kabupaten Meranti, Riau dengan produksi sagu basah sebanyak rata-rata 368 kg dan Sagu Bestari dari Kab. Indra Giri, Riau yang hanya rata-rata 495 kg. Populasi tersebut berpotensi untuk dilepas sebagai varietas unggul lokal Luwu Utara. Di hadapan Bupati yang visioner tersebut, Ismail juga sempat menyampaikan tentang program RPIK tim Balit Palma yang akan menangani pada sisi hulu  yaitu Seleksi dan Penetapan Rumpun Induk Terpilih sebagai sumber benih jangka pendek. Program lainnnya adalah Budidaya Sagu Terpadu yang akan membuat demplot penataan lahan populasi sagu dikombinasikan dengan budidaya ikan dan ternak, diharapkan dapat memberikan nilai tambah pendapatan kepada pemilik kebun sagu. Melalui penataan lahan yang akan menerapkan pola pengelolaan sagu berkelanjutan ini, nantinya  juga akan diarahkan menjadi  lokasi kunjungan,  wisata  sagu. Ini akan memberikan pengaruh positif terhadap wilayah sekitar, terutama dalam rangka menggerakkan perekonomian wilayah sekitar kebun wisata sagu. Jadi, kita tidak harus menerima apa adanya kondisi yang dahulu lazimnya sagu tidak dibudidaya maka mulai dari sekarang kita harus merubah mindset tersebut karena tanpa disadari pemanenan yang terus menerus tanpa usaha untuk melakukan penanaman kembali dan sentuhan budidaya maka akan menurunkan produksi baik kualitas maupun kuantitas.

Tentunya tidak lepas kami mengharapkan dukungan dan komitmen Pemerintah Daerah Luwu Utara untuk mengangkat sagu sebagai komoditi andalan melalui peningkatan pendapatan petani pemilik kebun sagu dan semua stakeholder terkait sangat dibutuhkan. Semoga langkah awal yang diniatkan untuk menghilirkan inovasi-inovasi teknologi yang membumi dari Balitbangtan, Kementerian Pertanian ini akan berjalan sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan berkat kolaboratif dari semua pihak demi pengembangan sagu masa depan. Salam Sagu Lengket. Majulah Sagu Indonesia (AIR, IM).

Print Friendly