KABUPATEN SARAI, NTT MERAKIT LONTAR HIBRIDA MENGGUNAKAN TEKNOLOGI BALITBANGTAN

Tanaman lontar adalah salah satu jenis palma penghasil nira untuk bahan baku gula lontar. Tanaman ini tumbuh dan berkembang baik di daerah lahan kering iklim kering seperti NTT. Pohon lontar banyak tumbuh di pulau Timor, Rote, Sabu dan Raijua. Sejak lama pohon lontar dijadikan salah satu sumber makanan dan minuman bagi masyarakat NTT, salah satu produk spesifik dari pohon lontar adalah Gula Air Sabu yg sangat terkenal.  Masalah pada tanaman lontar hampir sama dengan tanaman kelapa, yaitu pohon lontar berbatang tinggi, sehingga makin lama makin berkurang tenaga penderes air lontar karena anak-anak muda tidak mau lagi kerja memanjat pohon lontar pagi sampai sore hari. Sehubungan dengan masalah ini, maka Pemda Sarai melalui Dinas Pertanian dan Pangan mencari solusi agar pohon lontar tetap berkembang dan dimanfaatkan di Kabupaten Sarai (Sabu Raijua), dengan melakukan penanda tangan MOU dengan Balit Palma, Balitbangtan pada tahun 2016.

Kerjasama penelitian ini adalah Balit Palma melakukan penelitian utk Perakitan Lontar Hibrida. Pada tahun 2016, melalui dana penelitian Kab.Sarai dengan UGM Jogya yang dipimpin Prof. Dr. Wagiman, peneliti Balit Palma yang dipimpin Prof. Dr. Hengky Novarianto telah melakukan karakterisasi dan identifikasi pohon lontar pendek dan cepat berbunga di beberapa Desa. Pada pertengahan tahun 2017 dengan dana kerjasama Dinas Pertanian dan Pangan Sarai dengan Balit Palma dilanjutkan kegiatan seleksi pohon induk lontar betina dan jantan, diikuti dengan kegiatan persilangan buatan di Desa Menia, Kec.Sabu Barat, Desa Eimau dan Desa Elode di Kec.Sabu Tengah.

Buah lontar hasil persilangan

Hasil pengamatan pada akhir tahun 2017 ini ternyata proses persilangan buatan lontar berjalan baik, buah lontar sebagai calon benih lontar hibrida dari 14 PIT lontar betina diperoleh fruit setting umur 4 bulan sesudah polinasi sebanyak 204 buah atau keberhasilan persilangan lebih dari 50%. Diperkirakan calon benih lontar hibrida ini akan dipanen antara bulan Januari-Februari 2018. Perkecambahan dan pembibitan lontar yang biasanya membutuhkan waktu sekitar 2 tahun, akan dipercepat menjadi 6 bulan dengan menggunakan teknik perkecambahan MHS dari Prof. Dr. Nyoman Mahayasa dari UNDANA. Diharapkan Lontar Hibrida akan cepat berbunga, produksi nira dan gula tinggi, serta profil pohon pendek.(HN,2017)

Print Friendly