Grand Design Bun500 Wilayah Sulawesi Dibahas Di Manado

Senin malam, 5 Agustus 2019 bertempat di Hotel Peninsula Manado telah dilakukan Focus Group Discussion (FGD) membicarakan tentang Grand Design Bun500 wilayah Sulawesi. Hadir dalam pertemuan Direktur dan Pangan dan Pertanian Bappenas Ir. Anang Noegroho, Drs. Dudi Gunadi, B.Sc. M.Si mewakili Dirjen Perkebunan, Direktur Perbenihan Dr. Ir. M Saleh Mokhtar, MP. FGD yang membahas tentang penyediaan benih tanaman perkebunan ini juga dihadiri oleh Kepala Dinas Perkebunan wilayah Sulawesi dan Kepala Balit Palma, mewakili Kepala Pusat Penelitian Tanaman Perkebunan , Balitbangtan, Kementan. Mengawali FGD, Dudi Gunadi yang mewakili Dirjen Perkebunan menyampaikan tentang peran dan sumbangan sektor perkebunan dalam peningkatan pendapatan nasional saat ini, yaitu sebesar 476 Triliun. Dalam rangka mendorong pengembangan sektor perkebunan, Kementerian Pertanian telah menetapkan dan melaksanakan program-program dalam rangka mengembalikan kejayaan rempah dan tanaman perkebunan. Mendukung program tersebut ketersediaan benih tanaman perkebunan menjadi faktor kunci keberhasilan, sehingga dijadikan topik yang dibahas dalam FGD ini.  Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas Anang Noegroho membuka acara sekaligus menyampaikan tentang Rancangan Teknokratik RPJMN 2020 -2024 Bidang Pangan dan Pertanian wilayah Sulawesi (Sub Sektor Perkebunan). Menurut Anang, sesuai arahan Presiden RI terkait Pembangunan Infrastruktur dan SDM, sektor perkebunan menjadi fokus yang mendapat perhatian dalam pengembangannya ke depan . Sumbangan sektor perkebunan dalam pendapatan nasional menjadi dasar perlunya didorong pembangunan infrastruktur, SDM, kebijakan maupun regulasi. Program pengembangan tanaman perkebunan lima tahun ke depan yang digagas oleh Direktorat Jenderal Perkebunan saat ini mendapat dukungan dari Bappenas dalam pelaksanaannya. Selanjutnya Saleh Mochtar sebagai Direktur Perkebihan tanaman perkebunan memaparkan tentang program BUN500 yang akan menyediakan benih 8 jenis tanaman perkebunan yaitu kopi, kakao, karet, lada, pala cengkeh, tebu dan kelapa sebanyak 500 juta. Penyediannnya selama 5 tahun yang persiapannya dimulai tahun 2019. Pengadaan benih tersebut akan dilakukan melalui pola kontraktual dan swakelola. Benih-benih tersebut diharapkan dapat digunakan untuk peremajaan tanaman yang telah berumur tua maupun untuk peluasan areal. Saleh Mokhtar juga mengharapkan agar Dinas Perkebunan terkait segera menyiapkan kelompok tani penerima atau Calon Petani Calon Lahan (CP/CL) agar memudahkan dalam penyaluran benih yang nanti disediakan.

Dalam rangka mendukung program BUN500 dari Ditjenbun akan membangun sarana perbenihan berupa “nursery” di sentra penyediaan benih. Khusus untuk Sulawesi Utara akan dialokasikan 2 nurseri untuk masing-masing komoditi kelapa dan pala. Untuk nursery kelapa akan ditempatkan di Balit Palma dan perbenihan tanaman pala akan dikelola oleh BPTP Balitbangtan Sulut. Pada kesempatan yang sama para kepala Dinas Perkebunan provinsi wilayah Sulawesi menyampaikan beberapa usulan di antaranya terkait perlunya penambahan tenaga Pengawas Benih Tanaman (PBT) dan Pengawas Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) yang terbatas saat ini dan pola pengadaan benih tanaman perkebunan yang mudah pelaksanaannya. Kelapa Bait Palma , Dr. Ismail Maskromo mewakili Kapuslitbang Perkebunan menyampaikan bahwa Puslitbang Perkebunan memiliki potensi benih tanaman perkebunan seperti kopi, kakao, karet, pala, cengkeh dan kelapa yang dapat dihasilkan oleh balai komoditi lingkup Puslitbang Perkebunan. Puslitbang Perkebunan siap mendukug program BUN500. Selain itu disampaikan terkait dengan kebutuhan benih yang terus meningkat, sangat diperlukan teknologi perbanyakan secara massal tanaman perkebunan. Diharapkan Direktorat Perkebunan dan Bappenas mendukung penggunaan teknologi tersebut terutama pada tanaman kelapa yang sangat terbatas. penyediaan benihnya, jika masih mengandalkan metode konvensional menggunakan butiran kelapa sebagai benih. Dalam sambutan penutup Direktur Pangan dan Pertanian mengharapkan agar semua tanaman perkebunan dioptimalkan produktivitasnya dalam rangka meningkatkan pendapatan petani. Selain itu segera dilakukan hilirisasi tanaman-tanaman perkebunan potensial untuk lebih meningkatkan nilai tambah produknya.

Print Friendly