Dukungan Inovasi Teknologi Balit Palma untuk Pengembangan Sagu di Papua

Provinsi Papua sebagai daerah paling timur di Nusantara memiliki sumber daya alam yang melimpah. Diperkirakan luas areal sagu di Indonesia mencapai 5,5 juta hektar dan sekitar 90% berada di Papua. Oleh karenanya, berbagai upaya terus dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal. Dalam rangka pengembangan sagu berkelanjutan di Provinsi Papua, maka Kepala Badan Litbang Papua didampingi Kepala Dinas Tanaman Pangan Provinsi Papua bersama Kepala BPTP Papua Dr. Thamrin dan peneliti Agronomi Dr. Albert melakukan kunjungan ke Balit Palma, Balitbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Kami berharap Balit Palma dapat memberikan dukungan penuh untuk pengembangan sagu di Papua, demikian disampaikan oleh Kepala Badan Litbang Provinsi Papua pada sambutannya dalam rangkaian kunjungan di Balit Palma pada Kamis, 15 Agustus 2019. Teknologi penelitian yang dihasilkan Balit Palma sangat diperlukan untuk diaplikasikan di daerah kami, tuturnya.

Kepala Balai Penelitian Tanaman Palma Dr. Ir. Ismail Maskromo, MSi didampingi Kepala Seksi Pelayanan Teknik Ir. Jeanette Kumaunang, M.Sc dan Koordinator Program Dr. Steivie Karouw menyambut antusias kunjungan Tim Pemda Papua. Turut hadir dalam pertemuan yang dilaksanakan di Ruang Rapat Aren para peneliti ahli di bidangnya Prof. Dr. Hengky Novarianto, Dr. Donata Pandin, Ir. Rindengan Barlina, MS, Ir. Elsje Tenda, MS, Dr. Budi Santosa serta para peneliti muda. Dalam paparannya Kepala Balit Palma menjelaskan inovasi teknologi sagu dari hulu sampai hilir yang telah dihasilkan Balit Palma. Sebanyak 3 varietas unggul sagu telah dilepas melalui kerjasama antara Balit Palma dan pemerintah daerah, yaitu sagu Selatpanjang Meranti asal Kab. Kepulauan Meranti, sagu Bestari asal Kab. Indragiri Hilir dan Sagu Baruq asal Kab. Sangihe. Teknologi budidaya yang telah dihasilkan, yaitu pembibitan dengan sistem rakit, penjarangan dan pemangkasan anakan sagu. Pada aspek hilir, telah diperoleh teknologi pengolahan biodegradable film, beras analog sagu, biskuit dan roti, serta papeda instan. Untuk meningkatkan rendemen pati, telah tersedia alat pengolah sagu sistem mekanis dengan kapasitas 2 pohon/hari.

Pada kesempatan yang sama, pakar sagu Prof. Dr. Hengky Novarianto menjelaskan bahwa Papua memiliki potensi sumber daya genetik sagu yang luar biasa. Balit Palma telah melakukan eksplorasi sagu di beberapa daerah di Papua, yaitu Sentani, Keerom, Jayapura, Asmat dan Nabire. Sebagian di antaranya telah dikoleksi dan dievaluasi di Kebun Percobaan Balit Palma. Untuk itu ke depan perlu dilakukan evaluasi aksesi sagu asal Papua untuk selanjutnya dilepas sebagai varietas unggul nasional. Selanjutnya Kepala Balit Palma juga menyampaikan beberapa topik penelitian yang berpeluang untuk dilakukan, yaitu penyedian benih dengan teknik hidroponik, pengolahan pangan instan dan bioplastik berbasis sagu. Sebagai tindak lanjut, maka Balit Palma dan Pemda Papua dalam waktu dekat mengagendakan untuk menandatangani Perjanjian Kerjasama dalam rangka akselerasi pengembangan sagu di Papua. Sagu dari Papua untuk Indonesia. Salam sagu “lengket” (SK).

Print Friendly