Calon Sumber Benih Sagu di Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku

Sagu (Metroxylon sp) merupakan salah satu tanaman penghasil karbohidrat paling potensial. Pemanfaatan pati sagu umumnya digunakan sebagai bahan baku pangan dan bahan baku industry. Untuk menunjang program pengembangan sagu di Indonesia perlu didukung dengan teknologi menyangkut penyediaan benih sagu unggul, budidaya dan rehabilitasi hamparan sagu, diversifikasi produk pangan dan non pangan. Maluku adalah salah satu daerah penyebaran tanaman sagu di Indonesia. Peranan sagu bagi masyarakat Maluku cukup penting karena sagu merupakan salah satu makanan pokok bagi masyarakat Maluku. Hasil eksplorasi sagu menunjukkan terdapat lima jenis sagu yang berkembang di Maluku yaitu sagu Molat, Tuni, Ihur, Makanaru dan Duri Rotan. Sagu Molat merupakan jenis yang telah dilepas oleh Menteri Pertanian sebagai varietas unggul.


Untuk menjamin ketersediaan benih sagu maka perlu disiapkan kebun induk sebagai sumber benih yang bersertifikat. Karena itu harus dilakukan penetapan kebun sumber benih dan Rumpun Induk Sagu Terpilih (RIST) dari sagu Molat sebagai varietas unggul. Selain itu penting untuk melakukan identifikasi jenis sagu lainnya yang potensial untuk ditetapkan sebagai sagu unggul local. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan identifikasi calon kebun sumber benih sagu. Kegiatan tersebut dilakukan oleh Peneliti Balit Palma, Balitbangtan (Meity Tulalo, SP.MP), Pengawas Benih Tanaman Direktorat Jenderat Perklebunan (Fajar Hufail, SP) serta Dinas Pertanian Provinsi Maluku (Ir. Magdalena Patty dan Meike Hehanusa, SP.MSi).
Kegiatan dilakukan pada tanggal 03-06 Desember 2019 di Kabupaten Seram Bagian Timur Provinsi Maluku. Metode yang digunakan adalah survey populasi sagu, serta wawancara dengan petugas lapangan Dinas Pertanian Kabupaten Seram Bagian Timur serta petani pengolah/pemilik kebun sagu. Hasil survey dan wawancara yang dilakukan di Desa Belis, Kecamatan Teluk Waru menunjukkan populasi sagu yang didominasi oleh sagu Molat (+ 90 %) umur produktif dengan beberapa fase pertumbuhan anakan, secara umum potensial untuk dijadikan kebun sumber benih sagu. Untuk menjadikan sebagai kebun sumber benih maka perlu dilakukan penetapan dengan cara melakukan penilaian untuk mengkonfirmasi potensi produksi serta karakter lainnya, menyeleksi Rumpun Induk Terpilih Sagu (RIST), menetapkan titik koordinat dan pelabelan RIST serta melengkapi administrasi pendukung lainnya. Untuk itu maka kegiatan identifikasi ini akan dilanjutkan dengan penilain untuk penetapan kebun sumber benih sagu.


Berdasarkan hasil wawancara diperoleh informasi bahwa sagu Tuni memiliki potensi produksi yang lebih tinggi dari sagu Molat. Karena itu untuk menambah sumber benih serta menjamin kelestarian keragaman genetic sagu, akan dilakukan penilaian sagu Tuni untuk dapat ditetapkan sebagai sagu unggul local bahkan jika berdasarkan hasil evaluasi sagu Tuni berpotensi untuk dilepas sebagai varietas unggul maka penilaian akan dilanjutkan untuk proses pelapasan varietas. (MT)

Print Friendly