BALITPALMA BALITBANGTAN DUKUNG STRATEGI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI PAPAU BARAT

Papua Barat merupakan salah satu provinsi yang konsentrasi mengembangkan potensi daerah dengan mengedepankan pembangunan berkelanjutan dan . Provinsi ini mendapatkan penghargaan sebagai provinsi konservasi, karena pembangunan pertaniannya mengutamakan kelestarian alam dan keragaman hayatinya dalam pembangunan daerahnya. Dalam rangka mewujudkan Strategi Pertumbuhan Hijau dan Inklusif di Papua Barat maka InstitutPenelitian Inovasi Bumi (INOBU) dan Pemerintah Provinsi Papua Barat sedang melakukan pengembangan rencana bisnis untuk Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dan pengusulan rekomendasi untuk produksi komoditas berskala kecil dan berkelanjutan di Papua Barat. Sebagai bagian dari proyek ini , telah dilakukan studi pendahuluan terkait komoditas potensial Papua Barat. Pembuatan studi pendahuluan ini merujuk pada publikasi “ Inventarisasi dan Identifikasi Komoditas dengan Potensi Unggulan Daerah Provinsi Papua Barat” yang diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembagan Daerah (Balitbangda) Provinsi Papua Barat dan data-data sekunder dari lembaga pemerintahan yang berkaitan dengan komoditas. Terkait dengan hal tersebut dia atas maka INOBU dan Pemda Provinsi Papua Barat melaksanakan Diskusi Group Terfokus Pakar (FGD) mengenai Produksi Komodits Berskala Kecil dan Berkelanjutan untuk Ekonomi Hijau dan Inklusif di Papua Barat pada selasa, 20 Agustus 2019 di Hotel Grand Palace Sanur, Bali. FGD selama sehari ini dihadiri oleh Kepala Badan Litbang Daerah Provinsi Papua Barat Dr. Charlie D. Heatubun, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Papua Barat , Kepala Bidang Pembinaan Hutan dan Kerhutanan Sosial, Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat, Kepala Bidang Tata Hutan dan Pemanfaatan Kawasan, Dinas Kehutanan Papua Barat, Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi Unit XVI Fak-fak, Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung Unit XII Manokwari, Direktur Eksekutif Inovasi Bumi, Sebagai nara sumber Prof. Dr. Ir. H. Mochamad Bintoro, M.Agr dari Faperta IPB yang menyampaikan tentang pola pengembangan sagu, Dr. Ismail Maskromo dari Balit Palma dengan materi pengembangan Komoditi aren mendukung strategi pembangunan dan pertumbuhan hijau di Papua Barat. Untuk peluang pengembangan komoditi rotan dibawakan oleh Barly BSc. SH. MPd, sedangkan Drs. Kuntadi, M. Agr menyampaikan tentang komoditi madu untuk meningkatkan nilai tambah petani di Papua Barat dengan mempertahankan kelestarian alam. FGD yang berlangsung sehari tersebut telah memberikan masukan kepada Pemerintah Papua Barat dan INOBU untuk merancang strategi pembangunan pertanian berkelanjutan.

Kepala Balit Palma menyarankan pengembangan tanaman aren dengan dua pola. Pola pertama yaitu mengoptimalkan pengolahan nira tanaman yang sudah ada, melakukan penyisipan tanaman baru untuk menjaga keberkanjutan produksi nira dan menanam tanaman kopi di antara pertanaman aren. Pola kedua adalah dengan menanam pada areal baru jarak 4 x 6 m, kemudian menanam tanaman sela kopi di antara tanaman aren. Selain itu disampaikan tentang pola pengolahan gula dari nira aren oleh kelompok tani yang dibina oleh mitra investor. Dengan pola ini petani tidak perlu mengolah nira yang dihasilkan sampai menjadi gula, tapi cukup dengan mendidihkan niranya agar fermentasinya berhenti. Selanjutnya nira dikumpulkan atau dijual kepada kelompok tani untuk dilanjutkan pengolahannya menjadi gula cetak atau gula kristal. Dengan standarisasi produk yang telah ditetapkan, mitra usaha atau investor yang akan membeli produknya untuk dikemas, dilabel dan dipasarkan. Selain produk utama gula, disarankan untuk memanfaatkan buah aren untuk dijadikan kolang-kaling, ijuk diolah menjadi tali dan batang aren yang telah selesai masa berproduksinya menjadi bahan furniture. Produk dari nira yang dapat dihasilkan juga adalah cuka organik. Semua produk tersebut dapat diolah dalam suatu unit produksi terpadu yang dibina oleh mitra investor atau bapak angkat. Bapak angkat juga diharapkan akan membantu petani dalam meremajakan dan membantu memelihara tanaman aren petani dengan memberikan bantuan pupuk organic dan pupuk hayati untuk mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan produksi niranya. Produksi nira aren yang dapat dipanen setiap hari dengan hasil gula yang memiliki nilai ekonomi tinggi diharapkan dapat membantu meningkatkan pendapatan petani di Papua Barat. Sebagai tindak lanjut dari FGD ini Pemda Papua Barat didampingi INOBU akan melakukan penyusunan program dengan melibatkan pihak terkait untuk mewujudkan pembangunan pertanian berkelanjutan dengan mengoptimalkan peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat Papua Barat. Balit Palma Balitbangtan, Kementan siap membantu dan mendampingi Pemda Papua Barat dalam mewujudkan program pembangunannya.

Print Friendly