BALITBANGTAN MENYELENGGARAKAN SOSIALISASI TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAMA RAMAH LINGKUNGAN KEPADA PETANI KELAPA PANDAN WANGI DI SUMUT

Komoditas perkebunan memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi nasional Indonesia. Peran strategis tersebut dapat dilihat dalam kontribusinya sebagai penyedia bahan pangan dan bahan baku industri, penyumbang Product Domestic Bruto (PDB), penghasil devisa Negara, penyerap tenaga kerja, sumber utama pendapatan rumah tangga pedesaan, penyedia bahan pakan dan bioenergy serta berperan dalam upaya penurunan gas emisi rumah kaca. Selain itu, perkebunan dan sektor pertanian lainnya juga memiliki fungsi strategis dalam menyelesaikan persoalan-persoalan lingkungan dan sosial seperti kemiskinan serta berperan dalam sektor wisata (agrowisata) dan keamanan. Sebagai komoditas perkebunan yang memiliki nilai ekonomi, sosial dan budaya yang penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia, kelapa telah dibudidayakan dan dikembangkan pada areal seluas ± 3,6 juta hektar si seluruh propinsi di Indonesia dan 98% dari total luas areal dimiliki oleh rakyat dengan luas kepemilikan yang kecil.

Sumatera Utara (SUMUT) merupakan salah satu wilayah dengan luas areal perkebunan kelapa sekitar 86,620 ha. Komoditas utama perkebunan di SUMUT adalah sawit, karet, kopi, kakao, kelapa dan beberapa komoditas spesifik antara lain gambir, kemenyan dan nilam. SUMUT dikenal sebagai daerah penghasil kelapa aromatik pandan wangi yang memiliki citarasa dan aroma pandan yang sangat diminati baik oleh konsumen dalam negeri maupun luar negeri. Kelapa pandan wangi diduga diintroduksi dari Thailand pada sekitar tahun 1971. Permintaan pasar kelapa pandan wangi semakin meningkat sehingga peningkatan luas areal dan produksi perlu dilakukan. Untuk menjaga stabilitas produksi kelapa pandan wangi, telah dilakukan pengamatan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang berada pada salah satu sentra produksi di Desa Pante Cermin Kanan, Kabupaten Serdang Badagai. Pemilik perkebunan kelapa pandan wangi di desa tersebut, Jasman, memiliki areal kelapa produktif seluas ± 30 ha dengan umur kelapa sekitar 14 tahun serta perbenihan kelapa untuk perluasan areal serta untuk tujuan komersil.

Tanaman kelapa Pandan wangi di desa Pante cermin Kanan telah diserang oleh hama antara lain hama Oryctes rhinoceros, dan ulat kantung (Psichidae). Hama O. rhinoceros adalah hama yang kosmopolitan, larvanya berkembang pada bahan-bahan organik sedangkan imago merusak pucuk kelapa yang masih muda sehingga ketika pelepah tersebut membuka penuh, daun yang diserang kelihatan seperti tergunting segitiga atau bentuk V dan V terbalik. Dua jenis ulat kantong yang paling banyak pada kelapa dan juga kelapa sawit adalah Mahasena corbetti dan Metisa plana. Larva muda biasanya berada pada permukaan daun, kemudian berpindah ke bagian permukaan bagian bawah daun. Hama menggerek daun sehingga bekas gerekannya mengering dan kemudian berlubang. Potongan daun dan tulang daun yang kering akan digunakan sebagai bahan pembuat kantong ulat tersebut. Kantong merupakan sarana berlindung terhadap parasitoid dan predator serta gangguan lainnya Bagian tubuh imago betina umumnya mereduksi dan tidak mampu terbang, sedangkan imago jantan memiliki sayap dan akan mencari betina karena feromon yang dikeluarkan betina. Bebrapa rekomendasi telah disampaikan kepada pemilik kebun, Pak Jasman untuk segera ditindaklanjuti. Hama O. rhinoceros disarankan untuk dikendalikan dengan menggunakan perangkap feromon agregasi, sanitasi sumber-sumber perkembangbiakannya dan penggunaan Metarhizium anisopliae var. major untuk ditaburkan pada bahan-bahan organik yang ada di lapangan. Ulat kantong disarankan untuk dikendalikan dengan menggunakan insektisida biologi seperti Bacillus thuringiensis (contoh produk Bactospene WP) serta mendorong kondisi lingkungan yang optimal untuk perkembangbiakan parasitoid yakni dengan menanam jenis tanaman berbunga seperti Cassia sp., dan Euphorbia heterophylla sebagai sumber nectar bagi parasitoid. Pengendalian secara mekanis dengan cara manual menangkap semua stadia ulat kantong. Pemeliharaan serta pemupukan berimbang juga disarankan untuk mendukung pertumbuhan tanaman, meningkatkan produksi serta toleransi terhadap serangan hama. Semoga hama kelapa ini bisa dikendalikan untuk menjaga stabilitas produksi kelapa pandan wangi sebagai sumber pendapatan petani. Jayalah kelapa Indonesia, sejahteralah petaninya!(IM;JA,2018)