AKAR BAYUR DAN KAYU BUGIS, ALTERNATIF PENGAWET ALAMI NIRA AREN

Nira yang menetes dari mayang adalah nira segar yang belum mengalami fermentasi. Nira kelapa yang baru menetes dari mayang berwarna bening, berasa manis, kadar gula 13,51-14,77% dan pH 6,17- 6,41. Fermentasi mulai berlangsung pada saat nira berada dalam penampung. Proses fermentasi akan menyebabkan perubahan rasa dan warna, yaitu rasa manis menjadi masam, cairan menjadi keruh seperti susu dan berbuih. Parameter yang dapat diukur secara langsung yaitu kadar sakarosa dengan hand refraktometer dan pH menggunakan pH meter atau indikator universal Pada nira yang tidak diberi pengawet, kadar sakarosa dan pH akan menurun dengan makin lamanya penyimpanan nira.
Perubahan pH dan kadar sakarosa terjadi karena aktivitas mikroba yang tumbuh dan berkembang dalam nira. Kerusakan nira dapat dihambat menggunakan pengawet (kimia dan organik) dan cara mekanis. Pengawet kimia antara lain kapur sirih, natrium benzoat dan natrium metabisulfit, sedangkan pengawet organik seperti kulit buah manggis, sabut kelapa, buah same, daun mara dan daun ginggihiang. Cara mekanis yaitu dengan mencuci bersih penampung dan pisau sadap menggunakan air mendidih yang dilakukan sebelum proses penyadapan. Berbeda dengan pengawet alami yang digunakan di beberapa daerah di Indonesia, petani di desa Mongiilo dan sekitarnya menggunakan akar bayur dan kayu bugis. Desa Mongiilo terletak  di Kecamatan Bolangu Ulu, Kabupaten Bone Bolango, jaraknya sekitar 2 jam berkendara dari Kota Gorontalo Ibukota Provinsi Gorontalo. Penggunaan pengawet alami seperti akar bayur dan kayu bugis dapat mempertahankan mutu nira aren dan menghasilkan gula aren berkualitas. Diharapkan dapat dilakukan penelitian untuk mengetahui bahan aktif yang terkandung dalam akar bayur dan kayu bugis.

instagram takipçi hilesi hacklink c99 shell Google